Jumat, 11 Juli 2014

Jawaban dari cerpen ‘Henry Dibunuh!

Jawaban dari cerpen ‘Henry Dibunuh!’:  
              
1. Clue pertama: dalam percakapan Kibum dan Ibu Henry terdapat kalimat, ‘Beritahu aku kalau Henry berbuat onar lagi di sekolah. dan beri saja dia pelajaran kalau dia macam-macam padamu.’ Dia memberikanku sebuah kotak berukuran sejengkal lebih padaku. Aku tersenyum mendapati satu hadiah yang kuinginkanh ia berikan padaku.
Setelah itu ibu Henry berkata. ’Cepat sembunyikan dari Henry.’
 Apa isi kotak itu?

2. Pada paragraph kedua, Kibum bercerita bahwa ia menginginkan sebuah pisau baru karena pisau di rumahnya rusak. Dan kembali ke clue satu saat ibu Henry memberikan kotak pada Kibum, Kibum bercerita: Aku tersenyum mendapati satu hadiah yang kuinginkanh ia berikan padaku.

3. Ketika Henry memukuli dan melepaskan sepatunya secara paksa, Kibum hanya diam.
‘Henry menarik kaki kananku. Membuatku terduduk di jalan beraspal dengan paksa. Dia mencoba melepaskan sepatu itu dari kakiku. Namun aku hanya diam, menunggu bantuan? Mungkin.’

Cocok tidak kalau kalimat ‘menunggu bantuan’ di atas diganti menjadi ‘menunggu waktu yang tepat’? artinya Kibum menunggu waktu yang tepat untuk membalas Henry.

4. Seseorang menjambak rambut Henry dari arah belakang. Menusuk bahu dan perut Henry berkali-kali.

Sebelumnya terdapat kalimat, ‘Sepatu itu berhasil berpindah ke kaki Henry. Ia menyeringai puas ke arahku yang masih diam, dan pergi memunggungiku.’

Bisa saja Kibum yang menusuknya. Karena ketika waktu yang tepat datang Henry sedang memunggunginya. Itu membuatnya dengan mudah bisa melakukan penyerangan dari arah belakang. Namun karena ketakutan, Kibum melakukannya sambil memejamkan mata. Dan ketika Henry ambruk, Kibum membuka matanya, dan mendapati hanya ada mereka berdua di sana.

Tentu saja, hanya ada Henry sang korban dan Kibum sang pelaku.

5. Aku harus beritahu Eomma, bahwa anak yang tak ia sukai itu telah pergi sesuai harapannya.

Kalimat ini pun menjurus pada keanehan. Kibum yang meskipun sangat ketakutan karena telah membunuh Henry, tak sabar untuk memberitahu ibu Henry bahwa kenyataanya anaknya itu telah dibunuh oleh Kibum, seorang anak yang ia sayangi lebih dari Henry. Anak yang membantu misinya menyingkirkan Henry.

Kibum is the killer.


(Maaf kalo ga mudeng, aku baru pertama kalinya bikin cerita semacem riddle begini. Jadi masih perlu belajar dari review kalian. Makasih udah baca ^^)





Henry Dibunuh!

Hari ini aku bisa berbangga diri pergi ke sekolah. Pasalnya, sepatu butut yang selalu membuatku terpojok itu sudah kubuang ke tempat sampah. Kini yang terpasang di kakiku adalah sepasang sepatu sekolah dengan harga yang tak bisa dianggap remeh, mengingat ada nama merek terkenal  yang tercantum di alas bagian dalamnya.

Seorang ibu yang tinggal di ujung gang yang membelikannya. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia, jadi ini bisa dibilang sebuah keberuntungan, kan? Padahal aku hanya ingin pisau baru. Pisau di rumah sudah rusak.

Aku mengunci pintu rumah dan pagar, kemudian dengan senang melangkah menuju halte bus untuk ke sekolah. Sampai di ujung gang, aku melihat Henry yang juga tengah bersiap-siap menuju ke sekolah. Di sampingnya berdiri sang Ibu yang tak lain adalah orang yang membelikan sepatu ini untukku. Ibunya mengusap kepala Henry sebelum akhirnya Henry berjalan keluar pagar. Sang Ibu melihatku, ia segera mengembangkan senyumnya dan mendekatiku.

“Kau suka?” tanyanya. Aku tahu pertanyaannya menjurus pada sepatu baruku.

Aku mengangguk mantap sambil tersenyum. “Gamsahamnida, Ahjumma.”

“Panggil saja ‘Eomma’, kau kan sudah seperti anakku sendiri.”

Aku malu mendengarnya. Pasalnya sudah lama sekali aku tidak bisa memanggil seseorang dengan sebutan ‘Eomma’.

Eomma?”

“Ya. Seperti itu.”

“Ah, aku senang sekali!”

“Sudah, sekarang kalian berdua berangkat bersama, ya. Beritahu aku kalau Henry berbuat onar lagi di sekolah. dan beri saja dia pelajaran kalau dia macam-macam padamu.” Dia memberikanku sebuah kotak berukuran sejengkal lebih padaku. Aku tersenyum mendapati satu hadiah yang kuinginkan ia berikan padaku. ‘’Cepat sembunyikan dari Henry. Dia sudah melirik-lirik padamu, tuh.”


***
Henry dan aku pun berangkat bersama. Namun ada yang aneh. Henry terus menerus melihat ke arah sepatuku.

“Aku tidak punya yang seperti itu. Tapi kenapa kau punya?” Dia bertanya.

“Ibumu yang membelikannya. Dia menyayangiku.”

Henry nampak mengangguk, kemudian kembali berjalan. Padahal aku ingin dia melakukan yang lain, seperti memukulku atau apa, agar nanti aku bisa mengadu pada ibunya.

“Kibum, temani aku sebentar.”

Tanganku tiba-tiba saja ia tarik. Ia berjalan tergesa menuju ke suatu tempat yang tak kutahu. “Ada apa?”

“Aku harus memberikan sesuatu pada seseorang.”

Ia terus membawaku menjauh dari jalan menuju halte bus ataupun sekolah. Ia mengajakku ke sebuah jalan buntu. “Untuk apa ke sini?”

“Untuk memberikan sesuatu pada seseorang.”

BUKK!
Sebuah pukulan mendarat di perutku, disusul satu lagi di pipiku. “Kau tahu, hari ini adalah hari ulang tahunku! Tapi Eomma tidak memberiku hadiah apapun! Aku rasa sepatu itu bukan untukmu! Itu milikku!”

Henry menarik kaki kananku. Membuatku terduduk di jalan beraspal dengan paksa. Dia mencoba melepaskan sepatu itu dari kakiku. Namun aku hanya diam, menunggu bantuan? Mungkin.

Sepatu itu berhasil berpindah ke kaki Henry. Ia menyeringai puas ke arahku yang masih diam, dan pergi memunggungiku.

Namun tiba-tiba saja ada yang menjambak rambutnya dari belakang. Sebuah pisau menancap di bahunya, kemudian beralih menusuk-nusuk perutnya. Aku menutup mataku hingga tiba-tiba terdengar suara gedebuk.

Aku membuka mataku dan melihat tidak ada orang lain selain kami berdua di sana.

Henry ambruk dengan darah yang mengucur di tubuhnya. Aku masih tak berani bicara dan meninggalkannya dengan segera karena ketakukan melihatnya seperti itu.  Seluruh tubuhku bergetar ketakutan.

Mungkin aku harus beritahu Eomma, bahwa anak yang tak ia sukai itu telah pergi sesuai harapannya.



fin.




*siapa yang membunuh Henry? (Maaf kalo ga mudeng, aku baru pertama kalinya bikin cerita semacem riddle begini. Jadi masih perlu belajar dari review kalian. Makasih udah baca ^^)


jawaban ada di http://maplegyu.blogspot.com/2014/07/jawaban-dari-cerpen-henry-dibunuh.html



Jumat, 11 April 2014

[FANFICTION] She Doesn't Know

*this fiction story real from my brain. Dilarang copas karena itu perbuatan buruk. Dan jangan lupa RCL chingudeul ^^*





"Jikalau aku boleh meminta, aku ingin jatuh cinta lagi. Tapi orang itu harus mati dulu." Ucapan Mi Kyung membuatku tersentak. Pasalnya di saat sedang tidur seperti ini, dia masih saja berkhayal menjadi salah satu pemeran di sebuah film yang ditontonnya pagi tadi bersamaku. Kami memang aneh, di saat pasangan kekasih lainnya menonton film romantis, kami malah menonton film action, dan ingatkan aku kalau kami menontonnya di pagi hari.

Rumahku memang mewah, yah aku tahu itu! Tapi Mi Kyung hanya rajin datang pagi-pagi ke rumahku hanya untuk menonton film di sana. Dan setelah itu kami pun pergi ke taman ini untuk mengawasi adik kecilnya yang sedang bermain.



"Hei kau sedang mendumal ya?"

Aku tersentak mendengar suaranya. Kapan dia terbangun?

"A-ah tidaak.... Sudahlah kau tidur lagi saja di bahuku."

"Aku tidak ngantuk lagi karena tatapan risihmu padaku. Kau masuk ke mimpiku. Seraaaam sekali. Kau menjadi pengkhianat yang membunuh ibu Jane di film tadi."

Aku memegangi keningnya. "Kau sakit, eoh? Bicara yang benar." Kuputar saja bola mataku, pura-pura marah.



Ia malah mempoutkan bibirnya, kemudian merangkul lenganku dan mulai merasa bersalah. "Kyu Hyun Oppa jangan marah." Aku menatapnya risih, dan ia memberikan senyumannya padaku. "Jangan marah."


Demi apapun dia membuatku sesak napas karena tingkahnya. Oh, bukan sesak napas, aku rasa aku gugup. Jatuh cinta lebih tepatnya. Dia belum tahu saja, kalau aku yang telah membunuh kekasihnya sebelumku, si Zhou Mi yang selalu memeras hartanya.


Kamis, 10 April 2014

[FANFICTION] GEMPAL

By. Pertiwi



"Kalau kau mau menjauhkannya dariku, aku akan menganggap semua hutang Ayahmu yang  melimpah padaku lunas."

"Aku tidak mau."


Baek Hyun terus menolak tawaran bodoh Kai. Baginya itu terlalu kejam, bahkan terlalu menyakitkan. Coba bayangkan saja, si perokok itu sepertinya sudah tidak punya hati karena menyuruh Baek Hyun menjauhkan Seorim darinya.


"Kalau begitu aku ubah tawarannya. Ambil saja dia, bukankah kau menyukainya? Menyukai wanita gempal itu?"


Baek Hyun hampir saja melempar asbak koleksinya ke arah Kai, jika saja dia tidak ingat betapa sulitnya mencari yang seperti itu.


"Memangnya kenapa kalau aku menyukainya? Kau pun dulu pernah memiliki tubuh gempal seperti itu, kan? Lagipula dia tidak terlalu gemuk."

"Itu jauh sebelum kita debut. Kau lihat, sekarang diriku sudah berubah, bukan? Apa kau puas? Aku tidak butuh wanita sepertinya!"


Baek Hyun mengeraskan rahangnya. "Kalau saja kita ini bukan superstar, aku akan menghajarmu, Jong In-ah!"


"Kuharap begitu."



BUKK!!

Darah segar tampak muncul dari sudut bibir Kai ketika kepalan tangan Baek Hyun memukul keras wajahnya.


"ARRGH!"




"Ya, cut! Bagus sekali! Tadi seperti sungguhan!" Aba-aba sutradara membuat keduanya berhenti dan mengambil handuk keringat mereka.



"Memang sungguhan," desis Kai tersenyum miring.


Baek Hyun terkekeh mendengarnya. Ia menyodorkan selembar tisu pada Kai untuk membersihkan darah di bibirnya. "Kau kan yang menyuruhku, dasar pikun. Ini, bersihkan darahmu itu dan berikan obat agar cepat sembuh. Maafkan aku."

"Aaa, tidak, Hyung. Ini salahku. Tapi kalau tidak seperti tadi mungkin produser akan meminta pengulangan beberapa kali lagi."


Keduanya tertawa, kemudian saling merangkul. Mereka menghampiri seseorang yang setia menunggu mereka sejak awal proses syuting.


"Tadi keren sekali, Jong In-ah!" teriak Chan Yeol dan segera merangkul Kai.


"Yak! Tapi tadi aku yang melakukan serangan!" protes Baek Hyun, yang diabaikan oleh Chan Yeol. Teman satu grupnya itu malah sibuk mengelap keringat Kai, layaknya fans yang setia.


Baek Hyun mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang berdiri di sudut lokasi. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke sana sambil terus menyunggingkan senyumannya.


"Hai, Seorim. Kau datang kemari?" tanyanya pada gadis itu.


"Aku bawakan makan siang untuk kalian bertiga. Aku tahu Chan Yeol Oppa akan ikut makanya aku buatkan tiga bekal. Kumohon terimalah!" ucap Seorim sembari menyodorkan tiga buah bekal makan siang pada Baek Hyun.



"Hmm..., tapi kau tidak mau memberikannya langsung? Ada Kai di-"



"Tidak usah. Kai Oppa tidak akan senang jika melihatku. Aku sudah baca semua narasinya, Kyung Soo Oppa hebat! Narasinya sangat menyentuh! Aku harap drama kalian akan mendapat rating tinggi!"


Baek Hyun mengacak-acak rambut Seorim. "Itu kan memang kisahmu. Tadinya Kyung Soo juga berencana mengajakmu ambil serta sebagai Seorim di drama ini."


"Anni-a. Nanti semua orang akan tahu cerita sebenarnya. Sudahlah, aku pamit pulang saja. Annyeong!"


Baek Hyun terkekeh. Dalam diam ia menatap punggung gadis berpostur sedikit gempal itu yang kian lama makin menjauh. "Huh, siapa bilang dia gemuk? Lihat saja! Dia akan berubah menjadi cantik suatu saat nanti, dan itu tanpa operasi!"



Dalam pikirannya ia berpikir bahwa suatu saat Kai akan menyesal telah memberikan Seorim kepadanya.






*Sebenernya aku minjem tokohnya Kak Wedha di cerita ini. Habis gegara tugas yang dikasih waktu itu jadi bikin aku mikirnya ke sini. Aku minta maap kak, udah minjem tokoh-tokohnya. Tapi bisa dipastikan ceritanya ga bakal sama kok ._.v ^^

Pelangi Tampan dari Rumah Kayu

By: Pertiwi P.U

Hari ini hujan lagi. Rintik hujan pun turun dari gumpalan awan kapas di langit. Matahari tak nampak lagi, apalagi background biru mudah khas langit yang sudah tertutup awan kelabu. Biasanya pra kiraan cuaca selalu benar, tapi seharusnya aku tidak boleh terlalu percaya-atau akibatnya aku menjadi menyesal seperti sekarang.

Kedua telapak tanganku mendadak dingin karena angin yang berhembus. Keduanya seperti meminta untuk saling didekatkan agar bisa saling memberi kehangatan. Ah, sebagian besar jaket yang kukenakan juga sudah basah, untung saja aku menemukan tempat untuk berteduh-di depan sebuah rumah kayu. Aku berani bersumpah bahwa aku sangat berterima kasih pada pemilik rumah ini. Karena rumah-rumah di pedesaan memang jarang.

Hujan masih saja turun, dan yang bisa kulakukan hanya mengecek ponsel untuk memastikan pukul berapa sekarang. Sesekali aku memastikan kotak susu di sampingku. Aku harus menjaganya, atau kalau tidak..., bisa mati aku karena Kak Kei akan menceramahiku panjang lebar seperti kemarin saat aku lupa tidak memompa ban sepedaku. Untung saja hari ini aku tidak lupa, dan sepeda itu sedang main hujan-hujanan di halaman rumah ini.

Oh ya ampun! Ini sudah hampir pukul dua belas siang, dan aku harus sudah sampai di sebuah panti asuhan pukul 12.15, kalau tidak mungkin Raihan akan menangis lagi.
Aku menunggu, hingga akhirnya hujan pun reda. Kuharap kali ini ia membawa sebuah pelangi indah yang bisa menenteramkan hatiku. Tapi hujan kemarin saja hampa tanpa pelangi, apakah hari ini juga akan seperti itu?

Entahlah.

Aku menadahkan telapak tanganku ke depan, memastikan apakah aku sudah bisa melanjutkan perjalananku atau belum. Dan ketika aku hendak berjalan dan meninggalkan rumah itu, seorang pria muda keluar dari sebuah pintu, dan aku hampir menabraknya jikalau tidak segera mendongak untuk membenarkan penglihatanku.

Dia lebih tinggi dariku, yah mungkin sekitar 179 cm. Wajahnya tampan dan rambutnya basah seperti habis keramas. Tubuhnya segar akibat wangi parfum atau sabun yang digunakannya.

"Maaf." Ya, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku rasa pelangi yang kuharapkan tiba, tiba di hadapanku. Dan setelah membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih, aku pun segera meninggalkan rumah itu dengan degupan jantung yang sudah tak karuan.


Jumat, 21 Maret 2014

IKAN SEPAT, music, friendship, and happiness



This is IKAN SEPAT (Ikatan Sembilan Empat) ^^


9.4 itu full of happiness. Semuanya ada di sini. Dari yang pinter, bandel, rajin, males, heboh, yang demen selfie, yang sok kece, yang panjang(?) *tinggi maksudnya ._.*, yang demen k-pop, motoGP, bola, yang eksis, cengo pun ada di sini. Tapi meskipun banyak perbedaan, kita semua adalah satu dan saling membutuhkan. Dan entah kenapa ternyata di 9.4 lah pertarungan-UN-yang sebenernya dimulai dan berakhir.


Kami terkumpul di kelas yang letaknya di dekat kantor kepsek dan ruang IT, kelas yang bisa dibilang berada di ujung namun strategis karna dekat sama kamar mandi, lapangan, mushola, dan ruang IT *walaupun jarang ke sana -__-*. Jumlahnya 41 siswa, dengan wali kelas bu Hj. Mustika yang super sabar :D



Kalo pas kelas tujuh (7.2) muridnya demen nyanyi-nyanyi tanpa alat musik, kelas delapan (8.1) ditambah gebuk-gebuk meja pas guru ga ada, nah sekarang kalo di 9.4 diiringi sama gitar yang walaupun cuma sedikit yang bisa maininnya, tapi itung-itung kita jadi bisa nyanyi bareng. Pokoknya 9.4 itu ga bisa sehariii aja tanpa nyanyi-nyanyi, kadang malah bikin lagu sendiri yang nyambung ga nyambung tetep bikin happy xD





Yah, biar pun kadang rada nyebelin karena emang suka ngeledek, tapi 9.4 memang tak akan terlupakan oleh waktu *halah bahasanya*.







Sekarang hampir tiga tahun menjalani masa sekolah di SMPN 1 PASARKEMIS, dan aku sudah mengenal banyak teman, termasuk sahabat-sahabatku: Asyah, Silvi, Soleha, Leni, Siti (Mother), Rena, Tania, Lindiana, Putri (Ahjumma), Nur dan Sulis (duo Beta). Hehe, meskipun hanya kenangan yang mungkin sangat sederhana, jujur aku tak pernah membedakan tentang itu. Semuanya telah hadir dan melingkar di kehidupanku, dan semoga aku bisa tetap mengingat semuanya hingga masa depanku nanti, terutama siswa yang kusebut "KYUHYUN'S TWINS" >.<




Mari bertemu lagi suatu saat nanti dan jadilah orang-orang yang sukses dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Good Luck!! Dan jangan lupa untuk selalu berdo'a ^^





Regards,


Pertiwi

[CERPEN] SESAK by Pertiwi Putri Utami

Senja sepi menaungi pelosok kota Pekalongan. Terik mentari telah berubah kejinggaan. Tawa kecil khas anak-anak sudah tak terdengar, tergantikan oleh suasana sunyi yang menggelap.
                

Di atap sebuah rumah, petikkan gitar membelai telinga dengan alunan musiknya yang terdengar memilukan. Petikkan itu terdengar parau, tanpa tersirat sebuah lekukkan di bibir sang pengalun. Orang itu, Dio.
                

Pria berumur tujuh belas tahun itu memejamkan matanya, membiarkan alunan itu mencekik hatinya, hingga air matanya pun jatuh menyentuh jemarinya yang tengah memetik gitar.
                


“Aku menyerah.” Tangannya terkulai lemas di samping, tak menyentuh gitarnya lagi. Kehidupannya hancur, tanpa serpihan kebahagiaan. Pria tampan itu telah kehilangan kedua orang tuanya, juga kehilangan teman-temannya dikarenakan sebelah kakinya yang sudah tidak utuh lagi.

                

Malam ini, ia ingin terdiam di sana saja, menunggu taburan bintang dan rembulan menghiasi kelamnya malam bersama gitar tua peninggalan ayahnya dan tongkat besi yang membantunya untuk berjalan. Dio…, tidak pernah tahu bahwa aku selalu menemaninya dan berada di sisinya.