Jumat, 11 April 2014

[FANFICTION] She Doesn't Know

*this fiction story real from my brain. Dilarang copas karena itu perbuatan buruk. Dan jangan lupa RCL chingudeul ^^*





"Jikalau aku boleh meminta, aku ingin jatuh cinta lagi. Tapi orang itu harus mati dulu." Ucapan Mi Kyung membuatku tersentak. Pasalnya di saat sedang tidur seperti ini, dia masih saja berkhayal menjadi salah satu pemeran di sebuah film yang ditontonnya pagi tadi bersamaku. Kami memang aneh, di saat pasangan kekasih lainnya menonton film romantis, kami malah menonton film action, dan ingatkan aku kalau kami menontonnya di pagi hari.

Rumahku memang mewah, yah aku tahu itu! Tapi Mi Kyung hanya rajin datang pagi-pagi ke rumahku hanya untuk menonton film di sana. Dan setelah itu kami pun pergi ke taman ini untuk mengawasi adik kecilnya yang sedang bermain.



"Hei kau sedang mendumal ya?"

Aku tersentak mendengar suaranya. Kapan dia terbangun?

"A-ah tidaak.... Sudahlah kau tidur lagi saja di bahuku."

"Aku tidak ngantuk lagi karena tatapan risihmu padaku. Kau masuk ke mimpiku. Seraaaam sekali. Kau menjadi pengkhianat yang membunuh ibu Jane di film tadi."

Aku memegangi keningnya. "Kau sakit, eoh? Bicara yang benar." Kuputar saja bola mataku, pura-pura marah.



Ia malah mempoutkan bibirnya, kemudian merangkul lenganku dan mulai merasa bersalah. "Kyu Hyun Oppa jangan marah." Aku menatapnya risih, dan ia memberikan senyumannya padaku. "Jangan marah."


Demi apapun dia membuatku sesak napas karena tingkahnya. Oh, bukan sesak napas, aku rasa aku gugup. Jatuh cinta lebih tepatnya. Dia belum tahu saja, kalau aku yang telah membunuh kekasihnya sebelumku, si Zhou Mi yang selalu memeras hartanya.


Kamis, 10 April 2014

[FANFICTION] GEMPAL

By. Pertiwi



"Kalau kau mau menjauhkannya dariku, aku akan menganggap semua hutang Ayahmu yang  melimpah padaku lunas."

"Aku tidak mau."


Baek Hyun terus menolak tawaran bodoh Kai. Baginya itu terlalu kejam, bahkan terlalu menyakitkan. Coba bayangkan saja, si perokok itu sepertinya sudah tidak punya hati karena menyuruh Baek Hyun menjauhkan Seorim darinya.


"Kalau begitu aku ubah tawarannya. Ambil saja dia, bukankah kau menyukainya? Menyukai wanita gempal itu?"


Baek Hyun hampir saja melempar asbak koleksinya ke arah Kai, jika saja dia tidak ingat betapa sulitnya mencari yang seperti itu.


"Memangnya kenapa kalau aku menyukainya? Kau pun dulu pernah memiliki tubuh gempal seperti itu, kan? Lagipula dia tidak terlalu gemuk."

"Itu jauh sebelum kita debut. Kau lihat, sekarang diriku sudah berubah, bukan? Apa kau puas? Aku tidak butuh wanita sepertinya!"


Baek Hyun mengeraskan rahangnya. "Kalau saja kita ini bukan superstar, aku akan menghajarmu, Jong In-ah!"


"Kuharap begitu."



BUKK!!

Darah segar tampak muncul dari sudut bibir Kai ketika kepalan tangan Baek Hyun memukul keras wajahnya.


"ARRGH!"




"Ya, cut! Bagus sekali! Tadi seperti sungguhan!" Aba-aba sutradara membuat keduanya berhenti dan mengambil handuk keringat mereka.



"Memang sungguhan," desis Kai tersenyum miring.


Baek Hyun terkekeh mendengarnya. Ia menyodorkan selembar tisu pada Kai untuk membersihkan darah di bibirnya. "Kau kan yang menyuruhku, dasar pikun. Ini, bersihkan darahmu itu dan berikan obat agar cepat sembuh. Maafkan aku."

"Aaa, tidak, Hyung. Ini salahku. Tapi kalau tidak seperti tadi mungkin produser akan meminta pengulangan beberapa kali lagi."


Keduanya tertawa, kemudian saling merangkul. Mereka menghampiri seseorang yang setia menunggu mereka sejak awal proses syuting.


"Tadi keren sekali, Jong In-ah!" teriak Chan Yeol dan segera merangkul Kai.


"Yak! Tapi tadi aku yang melakukan serangan!" protes Baek Hyun, yang diabaikan oleh Chan Yeol. Teman satu grupnya itu malah sibuk mengelap keringat Kai, layaknya fans yang setia.


Baek Hyun mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang berdiri di sudut lokasi. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke sana sambil terus menyunggingkan senyumannya.


"Hai, Seorim. Kau datang kemari?" tanyanya pada gadis itu.


"Aku bawakan makan siang untuk kalian bertiga. Aku tahu Chan Yeol Oppa akan ikut makanya aku buatkan tiga bekal. Kumohon terimalah!" ucap Seorim sembari menyodorkan tiga buah bekal makan siang pada Baek Hyun.



"Hmm..., tapi kau tidak mau memberikannya langsung? Ada Kai di-"



"Tidak usah. Kai Oppa tidak akan senang jika melihatku. Aku sudah baca semua narasinya, Kyung Soo Oppa hebat! Narasinya sangat menyentuh! Aku harap drama kalian akan mendapat rating tinggi!"


Baek Hyun mengacak-acak rambut Seorim. "Itu kan memang kisahmu. Tadinya Kyung Soo juga berencana mengajakmu ambil serta sebagai Seorim di drama ini."


"Anni-a. Nanti semua orang akan tahu cerita sebenarnya. Sudahlah, aku pamit pulang saja. Annyeong!"


Baek Hyun terkekeh. Dalam diam ia menatap punggung gadis berpostur sedikit gempal itu yang kian lama makin menjauh. "Huh, siapa bilang dia gemuk? Lihat saja! Dia akan berubah menjadi cantik suatu saat nanti, dan itu tanpa operasi!"



Dalam pikirannya ia berpikir bahwa suatu saat Kai akan menyesal telah memberikan Seorim kepadanya.






*Sebenernya aku minjem tokohnya Kak Wedha di cerita ini. Habis gegara tugas yang dikasih waktu itu jadi bikin aku mikirnya ke sini. Aku minta maap kak, udah minjem tokoh-tokohnya. Tapi bisa dipastikan ceritanya ga bakal sama kok ._.v ^^

Pelangi Tampan dari Rumah Kayu

By: Pertiwi P.U

Hari ini hujan lagi. Rintik hujan pun turun dari gumpalan awan kapas di langit. Matahari tak nampak lagi, apalagi background biru mudah khas langit yang sudah tertutup awan kelabu. Biasanya pra kiraan cuaca selalu benar, tapi seharusnya aku tidak boleh terlalu percaya-atau akibatnya aku menjadi menyesal seperti sekarang.

Kedua telapak tanganku mendadak dingin karena angin yang berhembus. Keduanya seperti meminta untuk saling didekatkan agar bisa saling memberi kehangatan. Ah, sebagian besar jaket yang kukenakan juga sudah basah, untung saja aku menemukan tempat untuk berteduh-di depan sebuah rumah kayu. Aku berani bersumpah bahwa aku sangat berterima kasih pada pemilik rumah ini. Karena rumah-rumah di pedesaan memang jarang.

Hujan masih saja turun, dan yang bisa kulakukan hanya mengecek ponsel untuk memastikan pukul berapa sekarang. Sesekali aku memastikan kotak susu di sampingku. Aku harus menjaganya, atau kalau tidak..., bisa mati aku karena Kak Kei akan menceramahiku panjang lebar seperti kemarin saat aku lupa tidak memompa ban sepedaku. Untung saja hari ini aku tidak lupa, dan sepeda itu sedang main hujan-hujanan di halaman rumah ini.

Oh ya ampun! Ini sudah hampir pukul dua belas siang, dan aku harus sudah sampai di sebuah panti asuhan pukul 12.15, kalau tidak mungkin Raihan akan menangis lagi.
Aku menunggu, hingga akhirnya hujan pun reda. Kuharap kali ini ia membawa sebuah pelangi indah yang bisa menenteramkan hatiku. Tapi hujan kemarin saja hampa tanpa pelangi, apakah hari ini juga akan seperti itu?

Entahlah.

Aku menadahkan telapak tanganku ke depan, memastikan apakah aku sudah bisa melanjutkan perjalananku atau belum. Dan ketika aku hendak berjalan dan meninggalkan rumah itu, seorang pria muda keluar dari sebuah pintu, dan aku hampir menabraknya jikalau tidak segera mendongak untuk membenarkan penglihatanku.

Dia lebih tinggi dariku, yah mungkin sekitar 179 cm. Wajahnya tampan dan rambutnya basah seperti habis keramas. Tubuhnya segar akibat wangi parfum atau sabun yang digunakannya.

"Maaf." Ya, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku rasa pelangi yang kuharapkan tiba, tiba di hadapanku. Dan setelah membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih, aku pun segera meninggalkan rumah itu dengan degupan jantung yang sudah tak karuan.