Kamis, 10 April 2014

Pelangi Tampan dari Rumah Kayu

By: Pertiwi P.U

Hari ini hujan lagi. Rintik hujan pun turun dari gumpalan awan kapas di langit. Matahari tak nampak lagi, apalagi background biru mudah khas langit yang sudah tertutup awan kelabu. Biasanya pra kiraan cuaca selalu benar, tapi seharusnya aku tidak boleh terlalu percaya-atau akibatnya aku menjadi menyesal seperti sekarang.

Kedua telapak tanganku mendadak dingin karena angin yang berhembus. Keduanya seperti meminta untuk saling didekatkan agar bisa saling memberi kehangatan. Ah, sebagian besar jaket yang kukenakan juga sudah basah, untung saja aku menemukan tempat untuk berteduh-di depan sebuah rumah kayu. Aku berani bersumpah bahwa aku sangat berterima kasih pada pemilik rumah ini. Karena rumah-rumah di pedesaan memang jarang.

Hujan masih saja turun, dan yang bisa kulakukan hanya mengecek ponsel untuk memastikan pukul berapa sekarang. Sesekali aku memastikan kotak susu di sampingku. Aku harus menjaganya, atau kalau tidak..., bisa mati aku karena Kak Kei akan menceramahiku panjang lebar seperti kemarin saat aku lupa tidak memompa ban sepedaku. Untung saja hari ini aku tidak lupa, dan sepeda itu sedang main hujan-hujanan di halaman rumah ini.

Oh ya ampun! Ini sudah hampir pukul dua belas siang, dan aku harus sudah sampai di sebuah panti asuhan pukul 12.15, kalau tidak mungkin Raihan akan menangis lagi.
Aku menunggu, hingga akhirnya hujan pun reda. Kuharap kali ini ia membawa sebuah pelangi indah yang bisa menenteramkan hatiku. Tapi hujan kemarin saja hampa tanpa pelangi, apakah hari ini juga akan seperti itu?

Entahlah.

Aku menadahkan telapak tanganku ke depan, memastikan apakah aku sudah bisa melanjutkan perjalananku atau belum. Dan ketika aku hendak berjalan dan meninggalkan rumah itu, seorang pria muda keluar dari sebuah pintu, dan aku hampir menabraknya jikalau tidak segera mendongak untuk membenarkan penglihatanku.

Dia lebih tinggi dariku, yah mungkin sekitar 179 cm. Wajahnya tampan dan rambutnya basah seperti habis keramas. Tubuhnya segar akibat wangi parfum atau sabun yang digunakannya.

"Maaf." Ya, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku rasa pelangi yang kuharapkan tiba, tiba di hadapanku. Dan setelah membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih, aku pun segera meninggalkan rumah itu dengan degupan jantung yang sudah tak karuan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar