Senja sepi menaungi pelosok kota Pekalongan. Terik
mentari telah berubah kejinggaan. Tawa kecil khas anak-anak sudah tak
terdengar, tergantikan oleh suasana sunyi yang menggelap.
Di atap sebuah rumah, petikkan
gitar membelai telinga dengan alunan musiknya yang terdengar memilukan. Petikkan
itu terdengar parau, tanpa tersirat sebuah lekukkan di bibir sang pengalun.
Orang itu, Dio.
Pria berumur tujuh belas tahun
itu memejamkan matanya, membiarkan alunan itu mencekik hatinya, hingga air
matanya pun jatuh menyentuh jemarinya yang tengah memetik gitar.
“Aku menyerah.” Tangannya
terkulai lemas di samping, tak menyentuh gitarnya lagi. Kehidupannya hancur,
tanpa serpihan kebahagiaan. Pria tampan itu telah kehilangan kedua orang
tuanya, juga kehilangan teman-temannya dikarenakan sebelah kakinya yang sudah
tidak utuh lagi.
Malam ini, ia ingin terdiam di
sana saja, menunggu taburan bintang dan rembulan menghiasi kelamnya malam
bersama gitar tua peninggalan ayahnya dan tongkat besi yang membantunya untuk
berjalan. Dio…, tidak pernah tahu bahwa aku selalu menemaninya dan berada di
sisinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar