Jumat, 11 Juli 2014

Henry Dibunuh!

Hari ini aku bisa berbangga diri pergi ke sekolah. Pasalnya, sepatu butut yang selalu membuatku terpojok itu sudah kubuang ke tempat sampah. Kini yang terpasang di kakiku adalah sepasang sepatu sekolah dengan harga yang tak bisa dianggap remeh, mengingat ada nama merek terkenal  yang tercantum di alas bagian dalamnya.

Seorang ibu yang tinggal di ujung gang yang membelikannya. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia, jadi ini bisa dibilang sebuah keberuntungan, kan? Padahal aku hanya ingin pisau baru. Pisau di rumah sudah rusak.

Aku mengunci pintu rumah dan pagar, kemudian dengan senang melangkah menuju halte bus untuk ke sekolah. Sampai di ujung gang, aku melihat Henry yang juga tengah bersiap-siap menuju ke sekolah. Di sampingnya berdiri sang Ibu yang tak lain adalah orang yang membelikan sepatu ini untukku. Ibunya mengusap kepala Henry sebelum akhirnya Henry berjalan keluar pagar. Sang Ibu melihatku, ia segera mengembangkan senyumnya dan mendekatiku.

“Kau suka?” tanyanya. Aku tahu pertanyaannya menjurus pada sepatu baruku.

Aku mengangguk mantap sambil tersenyum. “Gamsahamnida, Ahjumma.”

“Panggil saja ‘Eomma’, kau kan sudah seperti anakku sendiri.”

Aku malu mendengarnya. Pasalnya sudah lama sekali aku tidak bisa memanggil seseorang dengan sebutan ‘Eomma’.

Eomma?”

“Ya. Seperti itu.”

“Ah, aku senang sekali!”

“Sudah, sekarang kalian berdua berangkat bersama, ya. Beritahu aku kalau Henry berbuat onar lagi di sekolah. dan beri saja dia pelajaran kalau dia macam-macam padamu.” Dia memberikanku sebuah kotak berukuran sejengkal lebih padaku. Aku tersenyum mendapati satu hadiah yang kuinginkan ia berikan padaku. ‘’Cepat sembunyikan dari Henry. Dia sudah melirik-lirik padamu, tuh.”


***
Henry dan aku pun berangkat bersama. Namun ada yang aneh. Henry terus menerus melihat ke arah sepatuku.

“Aku tidak punya yang seperti itu. Tapi kenapa kau punya?” Dia bertanya.

“Ibumu yang membelikannya. Dia menyayangiku.”

Henry nampak mengangguk, kemudian kembali berjalan. Padahal aku ingin dia melakukan yang lain, seperti memukulku atau apa, agar nanti aku bisa mengadu pada ibunya.

“Kibum, temani aku sebentar.”

Tanganku tiba-tiba saja ia tarik. Ia berjalan tergesa menuju ke suatu tempat yang tak kutahu. “Ada apa?”

“Aku harus memberikan sesuatu pada seseorang.”

Ia terus membawaku menjauh dari jalan menuju halte bus ataupun sekolah. Ia mengajakku ke sebuah jalan buntu. “Untuk apa ke sini?”

“Untuk memberikan sesuatu pada seseorang.”

BUKK!
Sebuah pukulan mendarat di perutku, disusul satu lagi di pipiku. “Kau tahu, hari ini adalah hari ulang tahunku! Tapi Eomma tidak memberiku hadiah apapun! Aku rasa sepatu itu bukan untukmu! Itu milikku!”

Henry menarik kaki kananku. Membuatku terduduk di jalan beraspal dengan paksa. Dia mencoba melepaskan sepatu itu dari kakiku. Namun aku hanya diam, menunggu bantuan? Mungkin.

Sepatu itu berhasil berpindah ke kaki Henry. Ia menyeringai puas ke arahku yang masih diam, dan pergi memunggungiku.

Namun tiba-tiba saja ada yang menjambak rambutnya dari belakang. Sebuah pisau menancap di bahunya, kemudian beralih menusuk-nusuk perutnya. Aku menutup mataku hingga tiba-tiba terdengar suara gedebuk.

Aku membuka mataku dan melihat tidak ada orang lain selain kami berdua di sana.

Henry ambruk dengan darah yang mengucur di tubuhnya. Aku masih tak berani bicara dan meninggalkannya dengan segera karena ketakukan melihatnya seperti itu.  Seluruh tubuhku bergetar ketakutan.

Mungkin aku harus beritahu Eomma, bahwa anak yang tak ia sukai itu telah pergi sesuai harapannya.



fin.




*siapa yang membunuh Henry? (Maaf kalo ga mudeng, aku baru pertama kalinya bikin cerita semacem riddle begini. Jadi masih perlu belajar dari review kalian. Makasih udah baca ^^)


jawaban ada di http://maplegyu.blogspot.com/2014/07/jawaban-dari-cerpen-henry-dibunuh.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar