Hari ini aku bisa berbangga diri pergi ke sekolah. Pasalnya,
sepatu butut yang selalu membuatku terpojok itu sudah kubuang ke tempat sampah.
Kini yang terpasang di kakiku adalah sepasang sepatu sekolah dengan harga yang
tak bisa dianggap remeh, mengingat ada nama merek terkenal yang tercantum di alas bagian dalamnya.
Seorang ibu yang tinggal di ujung gang yang membelikannya. Kedua
orang tuaku sudah lama meninggal dunia, jadi ini bisa dibilang sebuah
keberuntungan, kan? Padahal aku hanya ingin pisau baru. Pisau di rumah sudah
rusak.
Aku mengunci pintu rumah dan pagar, kemudian dengan senang
melangkah menuju halte bus untuk ke
sekolah. Sampai di ujung gang, aku melihat Henry yang juga tengah bersiap-siap
menuju ke sekolah. Di sampingnya berdiri sang Ibu yang tak lain adalah orang
yang membelikan sepatu ini untukku. Ibunya mengusap kepala Henry sebelum
akhirnya Henry berjalan keluar pagar. Sang Ibu melihatku, ia segera
mengembangkan senyumnya dan mendekatiku.
“Kau suka?” tanyanya. Aku tahu pertanyaannya menjurus pada
sepatu baruku.
Aku mengangguk mantap sambil tersenyum. “Gamsahamnida, Ahjumma.”
“Panggil saja ‘Eomma’,
kau kan sudah seperti anakku sendiri.”
Aku malu mendengarnya. Pasalnya sudah lama sekali aku tidak
bisa memanggil seseorang dengan sebutan ‘Eomma’.
“Eomma?”
“Ya. Seperti itu.”
“Ah, aku senang sekali!”
“Sudah, sekarang kalian berdua berangkat bersama, ya. Beritahu
aku kalau Henry berbuat onar lagi di sekolah. dan beri saja dia pelajaran kalau
dia macam-macam padamu.” Dia memberikanku sebuah kotak berukuran sejengkal
lebih padaku. Aku tersenyum mendapati satu hadiah yang kuinginkan ia berikan padaku.
‘’Cepat sembunyikan dari Henry. Dia sudah melirik-lirik padamu, tuh.”
***
Henry dan aku pun berangkat bersama. Namun ada yang aneh. Henry
terus menerus melihat ke arah sepatuku.
“Aku tidak punya yang seperti itu. Tapi kenapa kau punya?”
Dia bertanya.
“Ibumu yang membelikannya. Dia menyayangiku.”
Henry nampak mengangguk, kemudian kembali berjalan. Padahal
aku ingin dia melakukan yang lain, seperti memukulku atau apa, agar nanti aku
bisa mengadu pada ibunya.
“Kibum, temani aku sebentar.”
Tanganku tiba-tiba saja ia tarik. Ia berjalan tergesa menuju
ke suatu tempat yang tak kutahu. “Ada apa?”
“Aku harus memberikan sesuatu pada seseorang.”
Ia terus membawaku menjauh dari jalan menuju halte bus ataupun sekolah. Ia mengajakku ke
sebuah jalan buntu. “Untuk apa ke sini?”
“Untuk memberikan sesuatu pada seseorang.”
BUKK!
Sebuah pukulan mendarat di perutku, disusul satu lagi di
pipiku. “Kau tahu, hari ini adalah hari ulang tahunku! Tapi Eomma tidak memberiku hadiah apapun! Aku
rasa sepatu itu bukan untukmu! Itu milikku!”
Henry menarik kaki kananku. Membuatku terduduk di jalan
beraspal dengan paksa. Dia mencoba melepaskan sepatu itu dari kakiku. Namun aku
hanya diam, menunggu bantuan? Mungkin.
Sepatu itu berhasil berpindah ke kaki Henry. Ia menyeringai
puas ke arahku yang masih diam, dan pergi memunggungiku.
Namun tiba-tiba saja ada yang menjambak rambutnya dari
belakang. Sebuah pisau menancap di bahunya, kemudian beralih menusuk-nusuk
perutnya. Aku menutup mataku hingga tiba-tiba terdengar suara gedebuk.
Aku membuka mataku dan melihat tidak ada orang lain selain
kami berdua di sana.
Henry ambruk dengan darah yang mengucur di tubuhnya. Aku
masih tak berani bicara dan meninggalkannya dengan segera karena ketakukan
melihatnya seperti itu. Seluruh tubuhku
bergetar ketakutan.
fin.
*siapa yang membunuh Henry? (Maaf kalo ga mudeng, aku baru pertama kalinya bikin cerita semacem riddle begini. Jadi masih perlu belajar dari review kalian. Makasih udah baca ^^)
jawaban ada di http://maplegyu.blogspot.com/2014/07/jawaban-dari-cerpen-henry-dibunuh.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar